Bintaro Design District (BDD) kembali menjadi ruang pertemuan bagi arsitektur, desain, material, dan gagasan lintas budaya melalui penyelenggaraan BDD pada 11–21 Juni 2026 di Bintaro, Tangerang Selatan. Mengusung tema “Lintas Batas”, BDD membuka ruang untuk mempertemukan perspektif, budaya, serta pendekatan baru dalam melihat hubungan antara manusia dan ruang.
Pavilion Light and Wind, yang merupakan hasil kolaborasi Denny Setiawan dari Studio Denny Setiawan bersama Zitta Architects, dengan dukungan VIRO mempertemukan perspektif arsitektur Indonesia dan Korea melalui dua elemen alam yang bersifat universal yaitu angin dan cahaya. Dalam tradisi pavilion Korea, hubungan antara ruang dan alam menjadi bagian penting dalam pengalaman arsitektur.
Gagasan tersebut kemudian menemukan relevansinya dengan arsitektur Indonesia yang juga memiliki perhatian terhadap penghawaan dan pencahayaan alami.
Dua negara dengan latar budaya berbeda tersebut akhirnya menemukan titik temu melalui satu pemahaman yang sama dimana alam dapat menjadi bagian penting dalam membentuk arsitektur dan pengalaman ruang.

Menggabungkan Pattern Indonesia dan Korea
Selain cahaya dan angin, Pavilion Light and Wind juga mengeksplorasi kesamaan visual antara Indonesia dan Korea melalui ragam hias dan tradisi tekstil.
Kekayaan pattern dari kedua budaya diterjemahkan ke dalam instalasi sebagai identitas visual yang menyatukan Indonesia dan Korea. Inspirasi dari pattern batik dan tradisi tekstil Indonesia dipertemukan dengan karakter pattern Korea, menghasilkan sebuah bahasa visual baru yang menjadi bagian dari pengalaman ruang.
Pattern tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, tetapi turut membentuk interaksi antara cahaya, bayangan, dan material di dalam pavilion.
Tidak berhenti pada instalasi, eksplorasi tradisi weaving juga dihadirkan melalui workshop Weaving Handpouch. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal dan merasakan secara langsung proses mengolah teknik anyaman menjadi produk yang fungsional.
Workshop tersebut menjadi perpanjangan dari gagasan Pavilion Light and Wind, bahwa material dan pattern bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga dapat disentuh, dipelajari, dan diciptakan kembali oleh manusia.
Dengan demikian, pengalaman pengunjung tidak hanya berlangsung secara visual melalui pavilion, tetapi juga melalui aktivitas kreatif yang menghubungkan material, craft, dan manusia.
Fleksibilitas material menjadi aspek penting dalam proyek ini untuk menerjemahkan pattern dan bentuk yang dirancang oleh arsitek. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Archineering Mastery, yang menggabungkan eksplorasi desain, material, dan proses fabrikasi untuk menghasilkan solusi yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan proyek.
Bagi VIRO, keterlibatan dalam proyek seperti ini menunjukkan bahwa material bukan hanya elemen pendukung, tetapi dapat menjadi bagian dari proses kreatif dan pembentukan identitas sebuah karya arsitektur.

Ketika Dua Budaya Bertemu melalui Arsitektur dan Craft
Pavilion Light and Wind menjadi representasi semangat “Lintas Batas” yang diusung BDD 2026. Indonesia dan Korea membawa tradisi serta pendekatan arsitektur yang berbeda, namun menemukan titik temu melalui sesuatu yang universal: cahaya, angin, material, dan ruang.
Kolaborasi ini juga menunjukkan bagaimana perbedaan budaya dapat menjadi sumber kreativitas. Tradisi pavilion Korea, konteks arsitektur tropis Indonesia, serta eksplorasi pattern dari kedua negara diterjemahkan menjadi sebuah instalasi yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dialami melalui cahaya, angin, bayangan, dan tekstur.
Bagi VIRO, kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendukung ekosistem desain melalui inovasi material, fleksibilitas, dan kolaborasi bersama arsitek serta kreator.
Pada akhirnya, Pavilion Light and Wind bukan sekadar sebuah pavilion, tetapi ruang dialog antara dua budaya yang diterjemahkan melalui bahasa arsitektur.
Arsitek: Denny Setiawan – Studio Denny Setiawan
Fabrikator: ViroBuild – ViroLab
Produk: Ceiling panel and fasad for Light and Wind Pavilion
Lokasi: Bintaro, Tangerang Selatan, Indonesia
