VIRO Mendukung Eksplorasi Anyaman dalam Kolaborasi Desain di Indonesia Design Week 2026

Desain lahir dari pertemuan berbagai gagasan, material, dan keterampilan. Dalam arsitektur maupun desain interior, material tidak hanya berperan sebagai elemen pembentuk, tetapi juga membawa karakter, tekstur, dan identitas yang memperkaya pengalaman sebuah ruang.

Semangat tersebut hadir dalam Indonesia Design Week (IDW) 2026 di Indonesia Design District (IDD) PIK 2. Mengusung instalasi The Collective Culture, perhelatan ini menjadi ruang pertemuan bagi desainer, arsitek, brand, dan komunitas kreatif untuk mengeksplorasi bagaimana kolaborasi dapat membentuk perkembangan desain Indonesia.

Sebagai bagian dari kolaborasi tersebut, VIRO memberikan dukungan material anyaman untuk menghadirkan potensi anyaman sebagai elemen desain yang dapat diterapkan dalam konteks kontemporer.

Anyaman sebagai Bahasa Desain Kontemporer

Anyaman memiliki kedekatan dengan tradisi kriya Indonesia. Melalui susunan pola, ritme, dan teksturnya, teknik ini menghadirkan karakter visual yang khas sekaligus menunjukkan hubungan antara keterampilan, material, dan proses pengerjaan.

Namun, potensi anyaman tidak terbatas pada produk kerajinan. Dalam perkembangan desain masa kini, anyaman juga dapat dieksplorasi sebagai elemen arsitektur dan interior yang membentuk permukaan, menghadirkan aksen visual, serta menciptakan permainan pola dan tekstur di dalam ruang.

Melalui dukungan anyaman dalam kolaborasi di IDW 2026, VIRO turut membuka ruang bagi eksplorasi tersebut. Material anyaman menjadi bagian dari proses kreatif yang memungkinkan gagasan desain diterjemahkan menjadi bentuk nyata, sekaligus memperlihatkan bagaimana teknik yang berakar pada tradisi dapat hadir dalam pendekatan desain yang lebih modern.

VIRO: Menghubungkan Material dan Kreativitas

Bagi VIRO, material memiliki peran penting dalam membantu desainer dan arsitek mengembangkan gagasan. Karakter anyaman, mulai dari pola hingga teksturnya, dapat menjadi elemen yang memperkuat konsep sekaligus memberikan identitas pada sebuah karya.

Dukungan VIRO dalam kolaborasi ini mencerminkan pendekatan tersebut: menghadirkan material sebagai bagian dari proses desain, bukan sekadar elemen pelengkap. Melalui eksplorasi anyaman, material dapat berinteraksi dengan bentuk, ruang, dan konteks penggunaannya untuk menghasilkan pengalaman visual yang lebih kaya.

Pendekatan ini juga sejalan dengan semangat VIRO, yang mempertemukan pemikiran arsitektur, rekayasa material, dan kemungkinan aplikasi untuk mendukung kebutuhan desain yang beragam.

Collective Culture: Kekuatan di Balik Kolaborasi

Tema The Collective Culture menggarisbawahi bahwa perkembangan desain tidak dibentuk oleh satu pihak saja. Di dalamnya terdapat kontribusi desainer, arsitek, produsen material, perajin, serta berbagai pelaku kreatif yang saling melengkapi.

Kolaborasi seperti ini memberi kesempatan bagi material untuk dieksplorasi di luar penggunaan yang umum, sekaligus mempertemukan pendekatan kreatif dengan kemungkinan penerapan yang lebih luas.

Melalui partisipasinya, VIRO mendukung ekosistem desain yang mendorong pertukaran gagasan dan eksplorasi material. Anyaman menjadi salah satu medium yang memperlihatkan bagaimana karakter, keter

Arsitek: Morphasia
Fabrikator: ViroBuild
Produk: Archineering, Selendang Mandapa
Lokasi: Indonesia Design District (IDD) PIK 2